Menjaga Nilai Kejujuran
Apa
yang kamu pikirkan ketika mendengar kata jujur?
Kamu mungkin bertanya-tanya, ada apa dengan kata jujur? Jujur adalah satu kata yang mudah diucapkan, namun
sulit untuk dilakukan. Banyak sekali kejadian yang berakhir dengan konflik,
salah satu penyebabnya ialah dari faktor kejujuran. Jujur saja, saat di bangku
sekolah, kamu pasti pernah menyontek saat ujian. Atau saat di perkuliahan, kamu
sering tidak masuk perkuliahan dengan berbagai alasan atau bahkan tanpa
keterangan, dan kamu memberikan surat izin supaya mendapat toleransi dari dosen
yang bersangkutan. Padahal saat itu, kamu tidak sedang sakit atau tidak melakukan
kegiatan apa pun di luar kampus. Atau yang lebih parah lagi, kamu meminta
temanmu untuk mengisi absen agar kamu dianggap hadir. Sebaiknya, tinggalkan
kebiasaan itu.
Agama
mewajibkan untuk melakukan hal-hal yang baik, salah satunya yaitu melakukan
kejujuran. Jika kamu sudah menerapkan kejujuran, maka kamu harus lebih menjaga
kejujuran itu, karena akan banyak sekali cobaan yang menguji sejauh mana kamu
bisa berbuat jujur. Namun sebaliknya, jika kamu tidak pernah berbuat jujur,
alangkah baiknya jika kamu mulai berbuat jujur.
Untuk
melakukan kejujuran, terkadang mudah, terkadang sulit. Mau tidak mau, kamu
harus menerima rasa pahit akibat dari kejujuran itu. Seperti contoh, kamu
diminta oleh beberapa temanmu untuk mengisi absen kehadiran. Saat itu, teman-temanmu
sedang tidak bisa hadir karena berbagai alasan. Ada yang mengatakan sedang
sakit, ada yang mengatakan sedang mengikuti kegiatan di luar kampus, bahkan ada
yang tidak memberikan keterangan. Pada saat itu, tidak ada bukti kuat untuk
menunjukkan bahwa temanmu tidak bisa ikut perkuliahan karena alasan-alasan
tersebut, atau bahkan saat itu temanmu berbohong. Saat itulah kejujuran dalam
dirimu diuji. Apakah kamu akan mengisi absensi bahwa temanmu hadir? Ataukah
kamu akan mengisi bahwa temanmu tidak hadir? Jika kamu menolong temanmu, maka
kamu akan merasakan rugi, karena kamu menolong untuk berbuat bohong. Namun,
jika kamu menolak untuk mengisi absensi temanmu dengan alasan belum ada
keterangan atau bukti yang jelas, maka selamat, kamu sudah melakukan satu perbuatan
jujur.
Menjaga
kejujuran sangatlah bagus, karena kamu akan mendapatkan pahala di sisi-Nya.
Tidak perlu khawatir bila dengan berbuat jujur, orang-orang di sekitar akan
menjauhi atau bahkan memusuhimu. Entah mengapa, ketika kamu berbuat bohong,
kamu akan mendapat pujian. Namun ketika kamu berbuat jujur, kamu akan
dikucilkan, dijauhkan, atau mungkin kamu bisa dikeluarkan dari tempat kamu
bekerja karena berbuat jujur. Aneh bukan? Realitas memang begitu, seperti yang
dikatakan tokoh Thanos dalam film “Avengers:
Infinity War” (2018) bahwa realitas terkadang mengecewakan. Kejujuran
memang pahit di awal, tetapi kamu akan bisa merasakan kenikmatan dari kejujuran
itu di akhir. Ingatlah bahwa Dia akan selalu bersamamu, Dia akan selalu
melindungimu karena perbuatan baikmu.
Berbuat
jujur merupakan salah satu bentuk ibadah, Sang Pencipta akan sangat suka bila
kamu berbuat jujur dan terus menjaga kejujuran dalam dirimu. Sangatlah hebat
jika kamu tidak hanya melakukan perbuatan jujur itu seorang diri, tetapi kamu
juga turut mengajak orang-orang di sekitarmu untuk berbuat jujur. Janganlah khawatir,
masih banyak orang-orang yang ingin berbuat jujur. Kamu akan menemukannya,
karena jika kamu selalu berbuat jujur, maka segala urusanmu akan selalu
dimudahkan oleh-Nya.
Komentar
Posting Komentar