Pentingnya Ketelitian dan Kesabaran dalam Menyunting

oleh Raflyzio Farhandhika


Jurnalistik. Kata tersebut mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Wawancara, mengetik, dan menyunting, beberapa kata tersebut cukup menggambarkan apa itu jurnalistik. Menurut McDougall dalam bukunya yang berjudul Interpretative Reporting, jurnalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa. Jurnalistik sangat penting di mana pun dan kapan pun. Karena melalui jurnalistik, masyarakat akan mengetahui informasi terbaru yang disampaikan oleh para wartawan dalam sebuah media. Dalam menyampaikan sebuah informasi, seorang jurnalis harus selalu menulis unsur 5W + 1H, itu merupakan kunci utama dalam menyampaikan sebuah informasi. Jika unsur tersebut sudah terpenuhi, maka isi berita bisa dikatakan sempurna.

Namun, seiring perkembangan teknologi, terkadang ada beberapa unsur yang tidak dimasukkan dalam berita sehingga akan muncul berita lanjutan. Hal ini biasa terjadi pada jurnalistik online (daring). Selain itu, menulis sebuah berita harus mengikuti Kode Etik Jurnalistik. Kode Etik Jurnalistik ialah ikrar yang bersumber pada hati nurani wartawan dalam melaksanakan kemerdekaan mengeluarkan pikiran yang dijamin sepenuhnya oleh Pasal 28 UUD 1945, yang merupakan landasan konstitusional wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

Walaupun wartawan memiliki kebebasan untuk menulis, wartawan harus mengikuti hukum yang berlaku. Mengingat Indonesia adalah negara hukum, maka setiap warga negara (termasuk wartawan) harus taat dan menegakkan hukum. Tidak hanya bertanggung jawab kepada hati nurani, setiap wartawan juga bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat, bangsa dan negara dalam melaksanakan tugasnya sebagai wartawan yang sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik.

Setiap naskah harus disunting sebelum diterbitkan atau dipublikasikan kepada masyarakat/pembaca. Baik itu naskah untuk surat kabar (koran, majalah) ataupun buku. Bahkan, dalam industri film pun terdapat penyuntingan naskah. Sebagian orang masih menganggap bahwa kegiatan menyunting naskah itu adalah hal yang mudah dan bisa dilakukan oleh semua orang. Ternyata, tidak semudah yang dibayangkan. Penyuntingan naskah memang bisa dilakukan oleh semua orang, tetapi tidak semua orang dapat menyunting naskah dengan baik dan benar.

Saat ini, telah banyak buku yang sudah menjelaskan tentang bagaimana cara menyunting naskah, apa saja yang harus dipersiapkan untuk menyunting naskah, serta bagaimana proses dalam penyuntingan naskah. Dengan adanya buku-buku tersebut, masyarakat menjadi tahu bahwa menyunting naskah itu tidaklah mudah.

Dalam dunia jurnalistik, seorang penyunting berita (editor) harus menyunting sebuah berita sebelum dipublikasikan, baik itu berita untuk media cetak maupun media daring. Seorang penyunting berita memiliki tugas yang tidak kalah penting dari yang lain, karena menyunting berita dengan dihantui oleh batas waktu (deadline) menjadi beban yang cukup berat. Meskipun begitu, seorang penyunting berita harus teliti, selain menyunting dari segi ejaan dan tata bahasa, penyunting berita juga harus memeriksa kembali tentang kebenaran fakta yang ditulis oleh wartawan agar tidak terjadi kesalahan atau kekeliruan di dalam berita yang dipublikasikan.

Kilas balik pada 2018. Berdasarkan berita dari detik.com yang berjudul “Biadab! Seorang Wartawati Diperkosa dan Dibunuh di Bulgaria”, terlihat bahwa terjadi kesalahan penulisan dalam berita tersebut. Kesalahan dapat dilihat pada kalimat pertama dalam berita yang tertulis “Seorang wanita yang merupakan eporter investigatif di Bulgaria ditemukan tewas dibunuh.” Dari kalimat pertama berita tersebut, terlihat jelas kesalahan penulisan kata reporter menjadi eporter. Penyunting berita seharusnya bisa lebih teliti dalam menyunting.

Kesalahan juga terdapat pada berita di liputan6.com dengan judul “Kronologi Kasus Kematian Yuyun di Tangan 14 ABG Bengkulu”. Dalam berita tersebut, nama korban ditulis dengan jelas tanpa menggunakan inisial, dan identitas (alamat) korban pun ditulis dengan lengkap. Hal ini bisa ditemukan pada kalimat pertama yang tertulis “Kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun (14), warga Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu terus disorot publik.” Ini merupakan kesalahan karena sudah melanggar Pasal 5 Kode Etik Jurnalistik yang berbunyi “Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan Susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.”

Wartawan memiliki peranan penting dalam masyarakat, yaitu sebagai pelapor atau orang yang menyebarkan suatu informasi kepada masyarakat. Dalam menulis sebuah berita, wartawan harus memiliki kemampuan berbahasa yang baik serta wawasan yang luas. Wartawan harus memberikan informasi sesuai dengan fakta yang ada, dan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat. Ketika selesai dalam menulis berita, diperlukan pemeriksaan ulang dalam naskah atau teks berita sebelum disebarluaskan kepada masyarakat untuk menghindari kesalahan.

Oleh karena itu, peran seorang penyunting berita amatlah penting, karena harus teliti dalam penulisan kata, kalimat, dan juga kebenaran fakta (akurasi). Manusia tidak ada yang sempurna, semua pasti memiliki kekurangan. Tetapi, alangkah baiknya jika bisa menutupi kekurangan tersebut dengan berusaha. Berusahalah semaksimal mungkin untuk menjadi yang lebih baik ke depan. Perlu diingat bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Menjadi penyunting naskah tidaklah mudah, butuh ketelitian dan kesabaran. 

Komentar

  1. Wah ngebantu aku yang lagi belajar jurnalistik nih. Thanks kak

    BalasHapus
  2. Ternyata gak mudah yah dalam menyunting suatu naskah, banyak yang harus diperhatikan

    BalasHapus
  3. Bagus nih, tulisannya jadi pencerahan untuk orang-orang yang masih belum paham apa itu jurnalistik.

    BalasHapus
  4. sulit ya ternyata jadi penyunting naskah itu, makasih buat infonya ya kak, jadi dapet info baru lagi deh tentang jurnalistik

    BalasHapus
  5. Tidak hanya berfokus pd kaidah bahasa Indonesia dan bahasa jurnalistik, tetapi juga diperlukan ketelitian dlm memperhatikan kata per kata pada tulisan yg ingin disunting. Mantap.

    Penggunaan tanda komanya, Kak. Mohon maaf dan terima kasih infonya

    BalasHapus
  6. Meskipun ada penyunting naskah, jurnalis juga punya peran dalam tulisannya. Ya harus tahu diri lah ya, jangan asal buat tulisan gitu aja. Semngat!

    BalasHapus
  7. Bagus nihhh buat belajar lagii

    BalasHapus
  8. Ternyata jadi penyunting naskah itu nggak gampang ya, banyak detail yang harus diperhatikan. Kalau keliru sedikit, bisa jadi salah pengertian

    BalasHapus
  9. Marizke Abdatullah26 Oktober 2019 pukul 21.32

    "Usaha tidak akan mengkhianati hasil", waaah...kata-katanya sangat memotivasi. Terima kasih atas ilmunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 Marizke. Dan terima kasih juga sudah baca artikel ini

      Hapus
  10. Masih banyak yang suka ngegampangin perkerjaan menyunting naskah, padahal saat menyunting naskah bener-bener harus teliti dan cermat.

    BalasHapus
  11. Mantap nih jadi penyuntingan naskah, biar ga ada kesalahan lagi untuk menulis naskahnya. Bermanfaat banget nih tulisannya. Terima kasih yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih jika artikel ini bermanfaat. Insya Allah akan ada artikel yang membahas tentang dunia jurnalistik selain tentang penyuntingan.

      Hapus
  12. Wah, aku suka banget penyuntingan. Bener banget harus ekstra sabar hehe nice artikel!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer